IPA Press ReleaseIPA Press Release

Mari Bersatu dan Berjuang: WTO SAMPAH!
Peserta dari dalam dan luar negeri membuka People’s Global Camp dengan melakukan aksi

Kami adalah elemen masyarakat yang bersatu untuk keadilan, pembangunan hakiki bagi rakyat dan pelestarian Bumi kita!
Ini adalah suara yang bergaung keras dari ratusan peserta dari Indonesia dan berbagai negara lain yang berpartisipasi dalam Global People’s Parade yang mencetuskan People’s Global Camp (PGC) yang digagas oleh Indonesia People’s Alliance (IPA).

Sembari mengusung spanduk, selebaran, dan papan yang memuat beragam tuntutan, sembari memainkan berjenis-jenis alat musik, sembari menyanyikan slogan dan lagu, sembari mengenakan pakaian adat Bali dan berwarna-warni, para peserta dari Asia dan Pasifik, Eropa, Amerika hingga Afrika melakukan aksi dari Puputan menuju Ngurah Rai Sports Center, tempat diselenggarakannya PGC dari tanggal 3-6 Desember 2013.

Ahmad SH, yang memimpin konferensi pers saat peluncuran PGC kepada media, menuturkan: “Perayaan solidaritas antarkelompok marginal ini merupakan suatu pernyataan tegas dari ranah pikiran kolektif kami atas pembangunan rakyat yang hakiki, simbiosis mutualisme dan solidaritas antarnegara dan penduduk, perlindungan dan konservasi lingkungan hidup kita. Ini merupakan alasan mendasar mengapa kami menyelenggarakan PGC karena kami ingin menegaskan akan adanya hak dan kepentingan kolektif kami untuk menentang serbuan globalisasi neoliberal oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).”

Di Indonesia, subsidi pertanian dari pemerintah telah dipangkas secara besar-besaran sehingga menyebabkan kaum petani miskin tidak bisa bersaing lagi akibat membanjirnya produk pertanian impor (seperti beras) yang murah dari negara-negara lain.

“Selagi kami meningkatkan kepedulian nasional kepada pemerintah, kami berada dalam satu suara bersama saudara dan saudari di seluruh penjuru dunia yang juga sedang memperjuangkan hak-hak mereka menentang dominasi WTO,” lanjut Ahmad, sambil menyoroti bahwa banyak dari para peserta berasal dari kalangan marginal seperti petani, buruh, perempuan, remaja, dan mahasiswa, penduduk pribumi dan pekerja migran juga dari kelompok aksi seperti pejuang lingkungan, HAM dan organisasi anti-swastanisasi.

Selain rapat pleno dan diskusi terpusat, yang disoroti PGC mencakup juga berbagai kegiatan swakelola yang diadakan oleh ragam organisasi dan institusi di dalam dan luar Indonesia dari tanggal 4 hingga 5 Desember. Malam solidaritas juga akan diselenggarakan pada tanggal 4 Desember malam di GOR Lila Bhuana, yang berlokasi di dalam Ngurah Rai Sports Center.

Terlepas dari banyaknya kekhawatiran yang terjadi belakangan ini – penolakan seorang anggota organisasi IPA oleh pemerintah Indonesia untuk masuk ke Pertemuan Tingkat Menteri WTO Ke-9 dan makin bertambahnya kehadiran aparat militer dan polisi di lokasi perhelatan PGC yang telah menyebabkan intimidasi terhadap para peserta dan relawan PGC, agenda PGC tetap akan dilanjutkan, kata Ahmad.

“WTO tidak lagi bermanfaat bagi rakyat Indonesia dan dunia. Membuat kesepakatan WTO baru berarti mematikan kita semua, perekonomian kita, Bumi kita. Lembaga yang sejatinya tidak memihak kepentingan rakyat dan lingkungan sebaiknya dibuang ke tong sampah sejarah. Dengan demikian, mari kita teriakkan: WTO SAMPAH!” kata Ahmad menutup pembicaraan.Let’s Unite and Fight: JUNK WTO!
International and national participants open People’s Global Camp with parade of struggle

We are a people united for justice, genuine development for the people and the preservation of our planet!

This is the vibe that strongly emanates from the hundreds of participants from Indonesia and other parts of the world marching during the Global People’s Parade that jumpstarts the People’s Global Camp (PGC) organized by the Indonesia People’s Alliance (IPA).

Carrying banners, streamers and placards with different calls, playing a wide variety of musical instruments, chanting slogans and singing songs, dressed in Balinese and other colorful wear, the participants from all over Asia and the Pacific, Europe, the Americas and Africa marched from Puputan to the Ngurah Rai Sports Center, where the PGC will be held on December 3-6, 2013.

Ahmad SH, leading the press conference to launch the PGC to the media, stated: “This celebration of solidarity amongst marginalized peoples is an expression of our united and collective stand for genuine people’s development, mutual benefit and solidarity among countries and peoples, protection and conservation of our environment. This is the very basis why we are holding the PGC as we assert our collective rights and interests against the continued onslaught of neoliberal globalization by the World Trade Organization.”

According to the Ahmad, for almost 20 years, the WTO has only caused much suffering to the poor countries and many marginalized peoples. “Through the imposition of its agreements, neoliberal policies of privatization, deregulation and liberalization has gravely stunted our agriculture, depleted our natural resources, caused economic death for many of our farmers and even small businessmen, massive unemployment, abject poverty,” averred Ahmad.

In Indonesia, agricultural subsidies from the government have been massively cut leaving the poor peasants with nothing to compete against the huge influx of cheaper agricultural produce (i.e. rice) imported from other countries.

“While we are raising our own national concerns to the government, we are one with our brothers and sisters in many parts of the world who are also standing up for their own rights and against the WTO,” continued Ahmad, highlighting that many of the participants came from marginalized sectors of peasants, workers, women, youth and students, indigenous peoples and migrant workers as well as cause-oriented groups like environmentalists, human rights advocates and anti-privatization organizations.

In addition to centralized plenaries and discussions, highlighting the PGC will be the many self-organized activities that organizations and institutions in and outside Indonesia are hosting from December 4 and 5. A solidarity night will also happen on the evening of December 4 at the GOR Lila Bhuana, situated inside the Ngurah Rai Sports Center.

Despite the many concerns that happened as of late – the rejection of an IPA member organization by the Indonesian government into the WTO’s 9th Ministerial Meeting and the widespread presence of the military and police at the PGC venue causing intimidation to the participants and volunteers of the PGC, the PGC will continue, said Ahmad.

“The WTO has no more use for the people of Indonesia and of the world. Allowing more deals inside the WTO will only mean death to many of us, our economies, our planet. An institution that does not truly serve the interests of the people and the environment should be thrown into the rubbish bin of history. With that, let us call: JUNK WTO!” concluded Ahmad.

No comments