Ratusan Aktivis Berkumpul Melawan WTOHundred Activist Unite to Against WTO

Pic1

Bali, 3 Desember 2013

Hari ini bertepatan dengan pembukaan Konferensi Tingkat Menteri ke 9 Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) diadakan Konferensi Pers Indonesin People Alliance (IPA) di Lapangan Puputan Bali sebagai salah satu bagian dari rangkaian acara People Global Camp/PGC (Kemah Rakyat Sedunia) yang diikuti oleh ratusan peserta dari organisasi kemasyarakatan di Indonesia dan berbagai Negara lain.

PGC adalah aksi kolektif gerekan rakyat untuk merespon usaha-usaha membangkitkan kembali agenda kapitalis monopoli dalam Konferensi Tingkat Menteri ke 9 WTO. Dengan tujuan membangun perkemahan untuk kedaulatan dan perdagangan untuk rakyat, PGC akan menyatukan suara, seruan dan tuntutan dari gerakan rakyat yang memposisikan diri secara tegas melawan kebijakan WTO.
Ahmad SH dari IPA yang memimpin konferensi pers ini menyatakan bahwa “Perayaan solidaritas antar kelompok marginal ini merupakan suatu pernyataan tegas dari ranah pikiran kolektif kami atas pembangunan rakyat yang hakiki, simbiosis mutualisme dan solidaritas antarnegara dan penduduk, perlindungan dan konservasi lingkungan hidup kita. Ini merupakan alasan mendasar mengapa kami menyelenggarakan PGC karena kami ingin menegaskan akan adanya hak dan kepentingan kolektif si neoliberal oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).”
“WTO tidak lagi bermanfaat bagi rakyat Indonesia dan dunia. Membuat kesepakatan WTO baru berarti mematikan kita semua, perekonomian kita, Bumi kita. Lembaga yang sejatinya tidak memihak kepentingan rakyat dan lingkungan sebaiknya dibuang ke tong sampah sejarah. Junk…Junk WTO” teriak Ahmad.

Selain itu menurut Rahmat Ajiguna Sekjen Aliansi Reforma Indonesia dan Aliansi Petani Asia menyatakan agar WTO dibubarkan dari muka bumi ini. WTO telah memaksa kaum petani dari Negara-negara berkembang untuk bersaing dengan Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Negara-negara maju lainnya yang dari sisi teknologi saja Negara-negara berkembang sudah kalah. Hal ini sangat merugikan bagi kaum petani apalagi di Indonesia, subsidi pertanian dari pemerintah telah dipangkas secara besar-besaran sehingga menyebabkan kaum petani miskin dan tidak bisa lagi bersaing akibat membanjirnya produk pertanian impor yang murah dari Negara-negara lain.

Adanya WTO juga merugikan bagi dunia pendidikan dan tenaga kerja, rakyat Indonesia tidak dapat mengakses pendidikan yang layak karena biaya pendidikan yang sangat mahal dan begitu pun tenaga kerja dengan adanya outsourcing dan tenaga kerja tidak tetap menyebabkan ketidaksejahteraan yang tidak sebanding seperti yang diungkapkan oleh Hari Sandi AP.
Ranja dari Third World Network (TWN) pun menyatakan bahwa Konferensi Tingkat Menteri Ke 9 WTO ini akan menghasilkan perjanjian-perjanjian yang merugikan bagi rakyat di Negara-negara berkembang. Perjanjian-perjanjian yang akan dibahas ini akan semakin mematangkan monopoli dagang yang lebih luas.

Begitu pun yang disampaikan oleh Raphael dari Asean Based Coalition yang meneriakkan bahwa WTO tidak berguna, WTO adalah sampah dan harus dibubarkan.

Bagi semua organisasi sipil yang berkumpul pada hari ini Konferensi Tingkat Menteri ke 9 WTO ini adalah perampasan terhadap kedaulatan bangsa dan rakyat Indonesia dan Negara-negara berkembang lainnya yang harus dilawan.

Konferensi Pers di Lapangan Puputan Bali ini kemudian dilanjutkan dengan longmarch menuju GOR Ngurah Rai, dimana disana diadakan dan diisi oleh banyak pembicara dan penampilan budaya dari Indonesia dan Internasional sebagai ungkapan persatuan rakyat terhadap perdagangan yang mengabdi pada rakyat dan melawan WTO. (Sindi)Bali, 3rd December 2013

Today is the opening of 9th World Trade Organization (WTO) Ministerial Meeting and Indonesian People Alliance (IPA) holds a press conference in Puputan Square, Bali as a part of People Global Camp/PGC (Kemah Rakyat Sedunia) program attended by hundreds of participants from civil organizations, both from Indonesia and abroad.

PGC is a collective people action to respond against the efforts to evoke monopolistic capitalist agenda in the 9th WTO Ministerial Meeting. With its purpose to express a concern on people sovereignity and fair trade, PGC gathers all voices, calls and demands of people’s movement that stands up against WTO policy.

Ahmad SH, leading the press conference to launch the PGC to the media, stated: “This celebration of solidarity amongst marginalized peoples is an expression of our united and collective stand for genuine people’s development, mutual benefit and solidarity among countries and peoples, protection and conservation of our environment. This is the very basis why we are holding the PGC as we assert our collective rights and interests against the continued onslaught of neoliberal globalization by the World Trade Organization.”
“The WTO has no more use for the people of Indonesia and of the world. Allowing more deals inside the WTO will only mean death to many of us, our economies, our planet. An institution that does not truly serve the interests of the people and the environment should be thrown into the rubbish bin of history. JUNK…JUNK WTO!” shouted Ahmad.

In addition, Rahmat Ajiguna, Secretary General of Indonesia Reform Alliance and Asian Farmer Alliance asserts that WTO must be banned completely. WTO has forced farmers in developing countries to compete with those from developed countries like USA and Japan with much more advanced technology. This has negative impact on farmers especially in Indonesia, subsidy has been massively cut causing poor farmers cannot compete anymore due to the huge influx of imported agricultural produce from abroad.

WTO also harms education and labor sector, because many Indonesians cannot access even minimum education due to very expensive educational costs. Also, outsourced labors and temporary employment have lowered the well-being of many Indonesians, said Hari Sandi AP.

Ranja from Third World Network (TWN) also stated that the 9th WTO Ministerial Meeting will produce harmful agreements towards people in developing countries. Those agreements will emphasize more extensive trade monopoly.
Raphael from Asean Based Coalition also asserts that WTO is useless, junk, and should be dissolved.

For all civil society organizations gathering in today in the 9th WTO Ministerial Meeting, it is a deprivation of sovereignity of Indonesia and other developing countries and it must be stopped immediately.

Press conference in Puputan Square is followed by longmarch to Ngurah Rai Sports Center, where speakers gather and cultural performances from Indonesia and abroad are performed as an expression to embrace people-oriented trade policy and as a symbol of fighting against WTO.

(Sindi)

No comments