Women's Forum Against FTA


Perdagangan bebas (FTA) berarti investor asing berbondong-bondong masuk ke Indonesia untuk menanamkan modalnya. Namun prosesnya tidak semudah itu. Untuk menarik minat investor masuk, maka pemerintahan yang ikut menandatangani perjanjian perdagangan bebas harus bersaing dengan menurunkan upah buruh serendah-rendahnya. Sedangkan sebagian besar buruh didominasi oleh perempuan.

Persoalannya tidak berhenti sampai di situ, buruh perempuan juga rentan mengalami kekerasan seksual oleh atasannya. Menurut penuturan salah satu peserta diskusi siang ini, buruh perempuan kerap dipaksa melayani nafsu birahi atasannya jika ingin kontrak kerjanya diperpanjang di pabrik. Dan hal itu sudah menjadi rahasia umum di lingkungan pabrik.

Jika kemudian buruh perempuan itu hamil tentunya para atasan tidak akan mengakui. Jadi pilihannya adalah dengan menggugurkan janinnya. Sedangkan hak-hak buruh perempuan tentang kehamilan hanya dapat dipenuhi jika perempuan tersebut telah menikah. Jadi buruh perempuan yang hamil tetapi belum menikah maka tidak akan mendapatkan haknya.

Jam kerja para buruh perempuan bukan sekedar 8 jam tetapi lebih. Karena buruh perempuan masih harus terus "bekerja" sebagai ibu rumah tangga setelah pulang ke kediamannya masing-masing.

Bukan hanya buruh perempuan saja yang akan menjadi korban dalam perdagangan bebas. Melainkan seluruh lapisan masyarakat akan menderita kerugian, termasuk petani perempuan dan nelayan perempuan. Dampak nyata yang dialami oleh perempuan di Muara Angke saat ini, setelah investor asing datang membuat pulau buatan di teluk Jakarta, atau yang dikenal sebagai reklamasi teluk Jakarta.

Sebelum proses reklamasi, para perempuan di Muara Angke dapat menikmati penghasilan sebagai pencari dan pengupas kerang, namun sekarang kerang sudah tidak dapat ditemukan lagi di Muara Angke. Demikian pula para nelayan, yang dahulu mencari ikan cukup di sekitaran teluk Jakarta, kini mereka harus berlayar jauh ke tengah laut untuk mencari ikan. Reklamasi itu telah membunuh pendapatan masyarakat di Muara Angke, dengan merusak alam di teluk Jakarta.

Bagaimana dengan nasib para pasien? Tentunya akibat perdagangan bebas maka perusahaan diperbolehkan menuntut negara jika negara masih memakai obat generik. Dan kita tahu bahwa obat generik merupakan andalan masyarakat Indonesia dalam pengobatan. Dampaknya jika obat generik dihapus maka pasien akan dipaksa membeli obat patent yang harganya dapat beratus-ratus kali lipat mahalnya.

Perjanjian perdagangan bebas salah satunya sedang dibahas di Tangerang saat ini secara diam-diam oleh pemerintah kita. Perundingan ini bahkan susah ditembus oleh kelompok masyarakat sipil, jadi hampir mustahil kita dapat mengetahui hasilnya. Para peserta diskusi dalam Women's Forum Against FTA hari ini sepakat untuk menolak Indonesia bergabung dalam perjanjian RCEP.

Materi presentasi selama diskusi dapat diunduh di sini:
  1. Pola Pembangunan Patriarkis melalui Mekanisme Perdagangan Bebas
  2. Mega FTA Berdampak Buruk Buat Masyarakat, Bencana Untuk Perempuan
  3. RCEP dan perempuan tani: hilangnya kedaulatan pangan
Artikel dan foto oleh Denny Prasetya

No comments