Minim Sosialisasi, Reagen Tes Jumlah Virus Hepatitis C Terancam Kadaluarsa

Untuk Segera Dirilis:

Jakarta, 23 Agustus 2017

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menyediakan alat tes untuk mengetahui jumlah virus Hepatitis C sebanyak 12.000 reagen. Reagen tersebut disiapkan untuk dua kali pemeriksaan jumlah virus Hepatitis C yang mengikuti terapi pengobatan melalui Program Nasional yang saat ini sedang dilakukan oleh pemerintah. Artinya, sebanyak 6000 pasien yang bisa mendapatkan subsidi penuh untuk mengetahui jumlah virus Hepatitis C. 


Penggunaan reagen bukan hanya diperlukan pada saat akan memulai terapi pengobatan saja, tetapi juga diperlukan setelah 12 minggu terapi pengobatan. Dengan mengetahui jumlah virus setelah melakukan terapi pasien bisa mengetahui efektifitas obat yang digunakan. Sebanyak 12.000 reagen direncanakan akan digunakan oleh 6000 pasien yang mengakses pengobatan Hepatitis C gratis melalui Direct Action Antiviral yang saat ini sedang menjadi program nasional pemerintah. 

Hal yang menarik ketika fakta yang didapatkan bahwa 6000 reagen tes jumlah virus Hepatitis C yang diharapkan dapat digunakan sebagai penunjang awal dalam terapi pengobatan memiliki masa kadaluarsa sampai dengan bulan Oktober 2017. “Bagaimana pasien yang mengikuti program ini bisa mengetahui keberhasilan pengobatannya jika bulan Oktober 6000 reagen kadaluarsa. Apakah pasien kemudian harus membayar alat tesnya dengan harga yang mahal?” ungkap Sally, Advokasi Staf, Indonesia AIDS Coalition. Hanya satu bulan saja waktu yang tersisa bagi alat tes sebanyak 6000 reagen dapat digunakan. Persiapan pemerintah menjalankan program nasional bagi pasien Hepatitis C memang masih kurang maksimal. Hal tersebut bisa dilihat dari sedikitnya jumlah Rumah Sakit yang berani melakukan pelayanan program dan sedikitnya jumlah pasien yang mengakses pengobatan. Sampai dengan saat ini, kurang dari 100 pasien yang mengakses program pemerintah untuk Hepatitis C. Padahal, menurut informasi yang didapat bahwa reagen telah terdistribusi sejak bulan Mei 2017 ke 22 Rumah Sakit di Indonesia yang tersebar di 6 Provinsi. Provinsi tersebut diantaranya adalah, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Utara. 

Pada tahap awal pemerintah menyediakan 6000 reagen untuk melakukan tes jumlah virus Hepatitis C dan baru 100 reagen yang digunakan artinya masih tersisa 4900 reagen yang bisa jadi akan terbuang sia-sia jika dalam waktu satu bulan ke depan tidak ada pasien yang mengakses program nasional tersebut, seperti yang dikatakan oleh Eky Koordinator Nasional Positive Hope Indonesia “bisa-bisa 5000-an reagen jadi sia-sia kalau begini” setelah melakukan pertemuan dengan Subdit Hepatitis & PISP hari Senin 21 Agustus lalu. Tentu ini sangat menarik perhatian, bahwa program nasional dengan dana milyaran rupiah untuk penyediaan obat dan alat tes jumlah virus yang disubsidi penuh oleh pemerintah tanpa persiapan. “ ini kita harus bagaimana, apa kita kurang sosialisasi atau memang ada hambatan di layanan?” Ungkap Eky menambahkan kerisauannya. 

Menurut jurnal The Lancet tahun 2015, diperkirakan jumlah pengidap Hepatitis C sebanyak 2 juta orang di Indonesia. Bahkan menurut Direktur Direktorat P2P, Ibu Wiendra Waworuntu, M.Kes. pada pemaparan situasi program pengendalian penyakit Hepatitis C di Indonesia dalam pertemuan regional WHO tahun 2016 menyebutkan bahwa jumlah pengidap Hepatitis C sebanyak 3 juta orang. Ironis apabila data estimasi mencapai jutaan orang pengidap Hepatitis C sementara dalam rentang waktu dari bulan Mei sampai dengan bulan Agustus kurang dari 100 orang yang mengakses pengobatan. Sosialisasi menjadi sangat penting dalam upaya mendukung berjalannya program, namun kenyataannya jika informasi tersebar luas kepada masyarakat pengidap Hepatitis C tentu hal ini tidak akan terjadi. Pengidap Hepatitis C harus segera mengakses reagen untuk mengetahui jumlah virusnya karena waktu yang tersisa hanya sebulan saja atau ribuan reagen tes jumlah virus Hepatitis C akan terbuang sia-sia. 

Untuk informasi lebih lanjut dapat mengubungi Sally pada nomor telepon 085890387979 atau melalui email : snita@iac.or.id

No comments