Press Release: Obat DAA (Sofosbuvir dan Daclatasvir) Harus Ditanggung oleh JKN

Untuk Segera Dirilis
Obat DAA (Sofosbuvir dan Daclatasvir) Harus Ditanggung oleh JKN

Jakarta, 21 Desember 2017


Hepatitis C merupakan salah satu penyakit yang diam-diam dapat membunuh orang yang terinfeksi oleh virus tersebut.
Diperkirakanan jumlah pengidap Hepatitis C sebanyak 2 juta orang di Indonesia.

Bahkan menurut Direktur Direktorat P2P, Ibu Wiendra Waworuntu, M.Kes. pada pemaparan situasi program pengendalian penyakit Hepatitis C di Indonesia dalam pertemuan regional WHO tahun 2016 menyebutkan bahwa jumlah pengidap Hepatitis C sebanyak 3 juta orang.

Di masa lalu untuk pengobatan Hepatitis C, banyak digunakan Pegylated Interferon namun sayangnya obat ini kurang bekerja efektif. Baru kemudian terdapat terobosan baru dengan adanya Direct Acting Antiviral (DAA) sebagai pengobatan Hepatitis C. Obat DAA generasi terbaru yang menuai kontroversi adalah Sofosbuvir di tahun 2013, karena obat ini bekerja sangat efektif untuk menyembuhkan Hepatitis C namun dihargai dengan harga yang sangat fantastis yaitu USD 84.000 untuk satu kali pengobatan. Seorang ahli farmasi dari Inggris kemudian mematahkan harga tersebut dengan hasil studinya bahwa obat Sofosbuvir dapat diproduksi dengan biaya minimum USD 100 – 250 untuk sekali pengobatan yaitu selama 12 minggu . Sehingga akhirnya, Sofosbuvir generik dapat diproduksi oleh perusahaan-perusahaan generik India yang diluncurkan pada tahun 2015 dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Hingga saat ini, Sofosbuvir menjadi backbone dalam setiap pengobatan Hepatitis C.

Indonesia termasuk salah satu negara, yang merespon cukup cepat dalam pengobatan Hepatitis C hal ini diawali dengan komitmen pemerintah untuk memiliki program pengobatan Hepatitis C bagi 6000 pasien pada tahun 2016, namun baru terlaksana di tahun 2017. Secara cepat, pemerintah memberikan ijin edar bagi Sofosbuvir baik versi paten dan juga generik di tahun 2016. Di tahun yang sama pula, Sofosbuvir masuk ke dalam Formularium Nasional (FORNAS) agar dapat ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sayangnya karena sudah tersedia program pemerintah untuk pengobatan Hepatitis C dengan kombinasi Sofosbuvir, Simeprevir dan Ribavirin secara kebijakan JKN tidak dapat menanggung obat ini meskipun telah masuk FORNAS.

Hal ini disayangkan oleh Eky, dari Forum Komunitas Hepatitis C, “Tentunya hal ini membatasi akses pengobatan untuk Hepatitis C, karena program pemerintah yang berjalan hanya untuk 6000 orang dan hanya di 6 provinsi, sementara jumlah pengidap Hepatitis C di Indonesia terdapat 3 juta orang”, ungkapnya. 
Di tahun 2017 Daclatasvir jenis obat DAA untuk Hepatitis C lainnya akhirnya mendapatkan ijin edar pada Oktober lalu. Daclatasvir merupakan DAA pan genotipe, tidak diperlukan lagi tes genotipe jika menggunakan obat ini sehingga dengan menggunakan obat ini akan meringankan biaya diagnostik bagi pasien karena tes genotipe di Indonesia cukup mahal. Kebanyakan pasien Hepatitis C di Indonesia adalah genotipe 1 dan 3, tentunya untuk menentukan keberhasilan pengobatan diperlukan tes genotipe agar dapat menggunakan obat yang tepat, dengan Daclatasvir tes genotipe sudah tidak diperlukan lagi.

Meskipun Daclatasvir sudah mendapatkan ijin edar, namun obat ini tidak menjadi bagian dari program pemerintah untuk di tahun 2018. Bahkan hingga saat ini pun, tidak ada pembahasan Daclatasvir untuk masuk ke dalam FORNAS Perubahan, sehingga itu artinya ketika pasien Hepatitis C akan mengakses obat ini harus mengeluarkan biaya sendiri. “Obat DAA yang ada sekarang saat ini, yaitu Sofosbuvir dan Daclatasvir, merupakan obat yang sangat efektif bagi kesembuhan pasien Hepatitis C, dengan efek samping yang tak berarti dan biaya yang terjangkau dibandingkan terdahulunya.

Tentunya hal ini akan memberikan dampak yang jauh lebih baik bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Sehingga dengan keduanya ditanggung oleh JKN akan semakin banyak pasien Hepatitis C di seluruh Indonesia yang mengakses obat ini.” Menurut Sindi, Koordinator Advokasi dari Indonesia AIDS Coalition (IAC).
Hal ini diperkuat dengan pernyataan Caroline Thomas, Program Manager PKNI, “Menurut pemodelan yang dilakukan oleh para ahli, setiap 1 orang yang diobati dengan Direct Acting Antiviral (DAA) akan menyumbangkan penghematan sebesar $ 4,256 uang negara. Dengan memasukkan Sofosbuvir dan Daclatasvir ke dalam Fornas selain Pemerintah mendukung akselerasi eliminasi Hepatitis di tahun 2030, pemerintah juga melakukan investasi yang tepat dalam penanggulangan Hepatitis C di Indonesia.”

Dalam konferensi pers ini Forum Komunitas Hepatitis C, IAC dan PKNI menyerukan kepada pemerintah agar Sofosbuvir dan Daclatasvir dapat ditanggung oleh JKN. Ketiganya meminta agar Kementerian Kesehatan menghapus pernyataan di Fornas terkait Sofosbuvir yang menyatakan bahwa obat ini tidak dapat ditanggung oleh JKN karena ditanggung oleh Program Pemerintah sementara Program Pemerintah jumlah kesediaannya sangat terbatas tidak dapat mencakup semua pasien Hepatitis C. Yang kedua adalah memasukan Daclatasvir ke dalam FORNAS sehingga kedepannya dapat ditanggung oleh JKN.

Narahubung :
1) Eky, Forum Komunitas Hepatitis C,  +62 812-8101-6449;
2) Caroline Thomas, PKNI, +62 897-4295-105 dan
3) Sindi Putri, IAC, +6287878407551.

No comments